jump to navigation

Warga Blitar yang Patriotik April 28, 2008

Posted by Wimpy in BERITA.
Tags: , ,
trackback

Rencana penjualan rumah Soekarno di Blitar yang biasa disebut Ndalem Gebang baru meledak belakangan ini. Tapi sejatinya, niatan itu telah dilaporkan ke para pejabat pemerintahan. Tapi, tak ada respons. Ahli waris Sukarmini, kakak Soekarno, telah menyurati para pejabat negara pada tahun 2007 lalu. Surat yang kopiannya dikirimkan oleh ahli waris kepada *detikcom*, Senin (21/4/200 8) tersebut berbunyi sbb:

Kepada Yth Presiden Republik Indonesia

Yth Wakil Presiden Republik Indonesia

Yth Gubernur Jawa Timur Yth Bupati Blitar

Yth Walikota Blitar

Dengan hormat, Pertama-tama kami ingin memperkenalkan diri sebagai wakil ahli waris Ibu Sukarmini Wardoyo, kakak kandung Bung Karno. Maksud dan tujuan surat ini adalah untuk memberikan informasi kepada pemerintah, bahwa berdasarkan keputusan rapat bersama semua ahli waris Ibu Wardoyo, para ahli waris sepakat untuk menjual Rumah Ibu Wardoyo (kompleks Ndalem Gebang) yang terletak di Jl Sultan Agung Blitar. Keputusan tersebut disepakati bersama, karena tidak ada ahli waris yang bersedia tinggal di Blitar untuk mengelola rumah tersebut beserta rumah-rumah lainnya secara terus-menerus. Kami merasa perlu untuk memberitahukan kepada pemerintah, karena rumah tersebut memiliki nilai historis yang tinggi bagi Bangsa Indonesia dan merupakan aset penting bagi pemerintah daerah kabupaten/kota Blitar. Demikian, kami berharap adanya tanggapan dari pihak pemerintah baik pusat atau pun tingkat daerah terhadap surat ini. Seluruh ahli waris Ibu Wardoyo mengucapkan terimakasih atas perhatian yang diberikan kepada kami.

Surabaya, 17 September 2007

Hormat kami,

Wakil Ahli Waris

Ibu Wardoyo

ttd dr H Bambang Sukaputra SPOG

ttd Retno Triani, Dra.Psi MSc

karena sampai saat ini tidak ada tanggapan dari Pemerintah keluarga bermaksud menjual Ndalem Gebang dengan harga Rp. 50 M, sehingga mendapat respon Sedikitnya 500 warga Kota Blitar Ahad (27/4) berkumpul di rumah bekas kediaman mantan presiden Soekarno semasa kecil di Jalan Sultan Agung, Kota Blitar, Jawa Timur. Mereka mendeklarasikan Forum Penyelamat Istana Gebang (FPIG). Sebuah kumpulan yang bertujuan menggalang dana dari seluruh lapisan masyarakat, untuk membeli rumah bersejarah yang hendak dijual ahli waris. Dari deklarasi itu terkumpul dana awal Rp 10 juta.

Islan Gatot Imbata, Ketua Forum itu menyatakan, rumah itu memiliki nilai histories tinggi. “Kami tak menghendaki rumah ini dijual ke pihak swasta. Karena itu kami menggalang iuran dari seluruh rakyat Indonesia untuk membelinya,” kata Islan saat melakukan deklarasi, Minggu (27/4).

Islan yang sejak tahun 1978 hingga 1999 menjadi pembantu rumah tangga di Istana Gebang menjelaskan, setelah makam Bung Karno di Kelurahan Bendo Gerit, Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar selesai dipugar tahun 1979, Istana Gebang turut berubah fungsi menjadi museum Bung Karno. Para peziarah dari seluruh penjuru dunia, sepulang dari makam Bung Karno selalu mampir dan beristirahat di rumah tua itu.

Karena sudah menyatu dengan seluruh warga, Islan menilai akan banyak yang kehilangan jika rumah itu jatuh ke tangan swasta. “Kami semua pasti akan kehilangan” kata Islan yang keluar dari Istana Gebang karena terpilih menjadi Ketua DPRD Kota Blitar tahun 1999-2004.

Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur itu menilai, siapapun, tak berhak melarang para ahli waris yang berniat menjual rumah itu. Para cucu dan cicit Ny Soekarmini Wardoyo (kakak kandung Bung Karno) merupakan ahli waris yang sah atas rumah itu. Namun karena rumah itu sudah menjadi cagar budaya, hendaknya pemerintah dan masyarakat bisa membeli rumah itu. “Jika sampai jatuh ke tangan swasta dan berubah menjadi pabrik es atau pabrik roti, siapa yang harus disalahkan,” kata Islan.

Andreas Edison, koordinator forum itu menjelaskan, proses pengumpulan dana melibatkan seluruh elemen masyarakat di Blitar. Mulai dari Walikota, pegawai negeri, tentara, polisi, pedagang, tukang becak, ulama, santri, pelajar dan lain-lain, berhak turut terlibat dalam memberikan uang iuran untuk membeli rumah yang berdiri di atas tanah seluas 14 ribu meter persegi itu.

“Kami berharap pemerintah segera membeli rumah ini sebelum jatuh ke tangan pihak swasta. Jika pemerintah angkat tangan, rakyat akan mengambil alih pembelian rumah ini kemudian diserahkan kepada pemerintah,” kata Andreas.

Saat ini sudah terkumpul uang sejumlah Rp 10 juta dari hasil sumbangan spontanitas warga yang hadir dalam deklarasi. Dari catatan di Posko Penggalangan dana FPIG, uang itu sumbangan dari para tukang becak, pedagang dan masyarakat Blitar lainnya.

“Penggalangan dana akan dibuka selama setahun dan akan kita kembangkan ke seluruh Indonesia,” kata Andreas.

Patut kiranya kita dukung program Warga Blitar ini sebagai wujud jiwa patriotisme kita…….

Komentar»

1. MABES - Mei 7, 2008

wew…mahal amat…50 M…
tapi ikut nyumbang…hmm…bolehlah…yang penting seikhlasnya kan… :D